Makalah Sediaan Salep


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Definisi Salep
Salep dan cream adalah sediaan yang berbentuk setengah padat, terutama untuk pemakaian lokal. Sediaan setengah padat ini diformulasikan dengan konsistensi sedemikian rupa, sehingga diperoleh produk yang halus dan lembek yang mudah dioleskan pada permukaan kulit. Bagian kulit yang paling berpengaruh untuk absorpsi obat adalah : bagian epidermis, kelenjar rambut, kelenjar keringat serta kelenjar minyak.
Epidermis adalah lapisan kulit paling luar di mana salep/cream tersebut dioleskan. Tebal epidermis tersebut berlain-lainan tergantung dari letak kulit, sehingga sangat  berpengaruh pada daya penyerapan obat. Bagian epidermis ini dilapisi oleh suatu lapisan film yang terdiri dari lemak-lemak, yang mempunyai pH sekitar 4,5-6,5 dengan akibat diperoleh absorpsi yang berbeda pula. Telah terbukti bahwa absorpsi obat ke dalam kulit selain melalui lapisan epidermis tadi, juga melalui saluran-saluran di dalam kulit, seperti kelenjar rambut dan kelenjar keringat.
Faktor-faktor yang memegang peranan di dalam proses absorpsi melalui kulit antara lain adalah:
1.    Koefisien partisi dari pada obat.
2.    Kelembaban dan suhu kulit.
3.    Jenis penyakit yang terdapat pada kulit.
4.    Konsentrasi bahan berkhasiat.
5.    Dasar salep/cream yang dipakai.
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lender (Anonim, 1979).

Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok: dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar saleop serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar salep yang dapat larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut (Anonim, 1995)

Macam-macam dasar salep antara lain :
1.      Dasar salep hidrokarbon,
          Dasar salep ini yaitu terdiri antara lain vaselin putih, Vaselin kuning, Paravin encer, Paravin padat, Jelene, Minyak tumbuh-tumbuhan, Campuran Vaselin dengan malam putih, malam kuning.
Dasar salep hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air, preparat yang berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih minyak sukar bercampur. Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar salep tersebut bertahan pada kulit untuk waktu yang lama dan tidak memungkinkan larinya lembab ke udara dan sukar dicuci. Kerjanya sebagai bahan penutup saja. Tidak mengering atau tidak ada perubahan dengan berjalannya waktu (Ansel, 1989).

2.      Dasar salep serap
Dasar salep ini dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (Paraffin hidrofilik dan Lanolin anhidrat) dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (Lanolin) (Ansel, 1989).

3.      Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik dan lebih tepatnya disebut krim. dasar salep ini mudah dicuci dari kulit atau dilap basah, sehingga lebih dapat diterima untuk bahan dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif dengan menggunakan dasar salep ini. Keuntungan lain adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap air pada kelainan dermatologik (Ansel, 1989).
4.      Dasar salep larut dalam air
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Sama halnya dengan dasar salep yang dapat dicuci dengan air dasar salep ini banyak memiliki keuntungan (Ansel, 1989).
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, serta stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya obat-obat yang dapat terhidrolisis, lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbondaripada dasar salep yang mengandung air meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mengandung air (Anief, 2003).

B.     Metode Pembuatan Salep
1.      Metode Pelelehan
Zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk sampai membentuk fasa yang homogen
2.      Metode Triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai atau dengan salah satu zat pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis
3.      Zat yang mudah larut dalam air dan stabil
Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat larut dalam air yang tersedia, maka obatnya dilarutkan dulu dalam air dan dicampur dengan basis  salep yang dapat menyerap air,
4.      Salep yang dibuat dengan peleburan
a.       Dalam cawan porselen
b.      salep yang mengandung air tidak ikut dilelehkan tetapi diambil bagian lemaknya (air ditambahkan terakhir)
c.       Bila bahan-bahan dari salep mengandung kotoran, maka masa salep yang meleleh perlu dikolir (disaring dengan kasa)√†dilebihkan 10-20%
Basis salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok :
1.      basis hidrokarbon,
2.      basis absorpsi (basis serap),
3.      basis yang dapat dicuci dengan air, dan
4.      basis larut dalam air.
Basis salep yang lain seperti basis lemak dan minyak lemak serta basis silikon. Setiap salep obat menggunakan salah satu basis salep tersebut
Basis hidrokarbon
1.      sifat inert
2.      umumnya merupakan senyawa turunan minyak bumi (Petrolatum) yang memiliki bentuk fisik semisolid dan dapat juga dimodifikasi dengan wax atau senyawa turunan minyak bumi yang cair (Liquid Petrolatum)
3.      Basis ini digolongkan sebagai basis berminyak bersama dengan basis salep yang terbuat dari minyak nabati atau hewani
Sifat minyak yang dominan pada basis hidrokarbon menyebabkan basis ini sulit tercuci oleh air dan tidak terabsorbsi oleh kulit. Sifat minyak yang hampir anhidrat juga menguntungkan karena memberikan kestabilan optimum pada beberapa zat aktif seperti antibiotik.
Basis ini juga hanya menyerap atau mengabsorbsi sedikit air dari formulasi serta menghambat hilangnya kandungan air dari sel-sel kulit dengan membentuk lapisan film yang waterproff.
Basis ini juga mampu meningkatkan hidrasi pada kulit. Sifat-sifat tersebut sangat menguntungkan karena mampu mempertahankan kelembaban kulit sehingga basis ini juga memiliki sifat moisturizer dan emollient.
Selain mempertahankan kadar air, basis ini juga mampu meningkatkan hidrasi pada kulit (horny layer) dan hal ini dapat meningkatkan absorbsi dari zat aktif secara perkutan. Hal ini terbukti dengan mengukur peningkatan efek vasokonstriksi pada pemberian steroid secara topikal dengan basis hidrokarbon.
Kerugian Basis Hidrokarbon
1.    Sifatnya yang berminyak dapat meninggalkan noda pada pakaian serta sulit tercuci oleh air sehingga sulit dibersihkan dari permukaan kulit.
2.    Hal ini menyebabkan penerimaan pasien yang rendah terhadap basis hidrokarbon jika dibandingkan dengan basis yang menggunakan emulsi seperti krim dan lotion.
Beberapa contoh kandungan basis hidrokarbon
1.      Soft Paraffin
Basis diperoleh melalui pemurnian hidrokarbon semisolid dari minyak bumi. Jenis sof paraffin yaitu :
berwarna kuning digunakan untuk zat aktif yang berwarna
berwarna putih (melalui proses pemutihan) digunakan untuk zat aktif yang tidak berwarna, berwarna putih, atau berwarna pucat.
Proses pemutihan menyebabkan sebagian pasien sensitif terhadap soft paraffin yang berwarna putih
2.      Hard Paraffin
Merupakan campuran bahan-bahan hidrokar-bon solid yang diperoleh dari minyak bumi. Sifat fisiknya tidak berwarna s/d berwarna putih, tidak berbau, memiliki tekstur berminyak seperti wax, dan memiliki struktur kristalin.
Hard paraffin biasanya digunakan untuk memadatkan basis salep.
3.      Liquid Paraffin
Merupakan campuran hidrokarbon cair dari minyak bumi. Umumnya transparan dan tidak berbau. Mudah mengalami oksidasi sehingga dalam penyimpanannya ditambahkan antioksidan seperti Butil hidroksi toluene (BHT), digunakan untuk menghaluskan basis salep dan mengurangi viskositas sediaan krim. Jika dicampur dengan 5% low density polietilen, lalu dipanaskan dan dilakukan pendinginan secara cepat, akan menghasilkan massa gel yang mampu mempertahankan konsistensinya dalam rentang suhu yang cukup luas (-15oC hingga 60oC).
Sifatnya stabil pada perubahan suhu, kompatibel terhadap banyak zat aktif, mudah digunakan, mudah disebar, melekat pada kulit, tidak terasa berminyak dan mudah dibersihkan.

C.    Pertimbangan Pemilihan Bahan :
Pemilihan basis salep disesuaikan dengan sifat zat aktif dan tujuan penggunaan. Sifat :
1.      Basis hidrokarbon bersifat kompatibel dengan banyak zat aktif karena inert,
2.      Sedikit atau tidak mengandung air,
3.      Tidak mengabsorbsi air dari lingkungannya.
4.      Kandungan airnya yang sangat sedikit dapat mencegah hidrolisis zat aktif seperti beberapa antibiotik.
5.      Kemampuan menyerap air yang rendah menyebabkan basis ini dapat digunakan pada eksudat (luka terbuka).
6.      Meskipun demikian, basis ini tetap meningkatkan hidrasi kulit sehingga meningkatkan absorbsi zat aktif secara perkutan.
Oleh karena itu, basis hidrokarbon merupakan basis dari salep dasar dan jika tidak disebutkan apa-apa maka basis hidrokarbon yang digunakan sebagai salep dasar adalah vaselin putih.
Dasar salep Hidrokarbon ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, bebas air, dimana preparat berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja. Bila lebih, akan susah bercampur. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut/penutup. Dasar salep ini digunakan sebagai emolien dan sifatnya sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Contoh : vaselin kuning dan putih, salep kuning dan putih, paraffin dan minyak mineral. Vaselin kuning boleh digunakan untuk mata, sedangkan yang putih tidak boleh karena masih mengandung H2SO4.
1.      Vaselin Kuning/Flavum
Vaselin kuning adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah padat yang diperoleh dari minyak bumi. Dapat mengandung zat penstabil yang sesuai. Pemerian : massa seperti lemak, kekuningan hingga amber lemah; berfluoresensi sangat lemah walaupun setelah melebur, dalam lapisan tipis transparan, tidak atau hampir tidak berbau dan berasa. Kelarutan : tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzena, dalam karbon disulfida, dalam kloroform dan dalam minyak terpentin; larutdalam eter, dalam heksana, dan umumnya dalam minyak lemak dan minyak atsiri; praktis tidak larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan dalam etanol mutlak dingin.
2.      Vaselin Putih/Album
Vaselin putih adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah padat yang diperoleh dari minyak bumi dan keseluruhan atau hampir keseluruhan dihilangkan warnanya. Dapat mengandung zat penstabil yang sesuai. Pemerian : putih atau kekuningan pucat, massa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 0 derajat C. Kelarutan : tidak larut dalam air; mudah larut dalam benzena, dalam karbon disulfida, dalam kloroform, larut dalam heksana, dan dalam sebagian besar minyak lemak dan minyak atsiri, sukar larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan dalam etanol mutlak dingin.
3.      Parafin
Parafin adalah campuran hidrokarbon padat yang dimurnikan, yang diperoleh dari minyak tanah. Pemerian : hablur tembus cahaya atau agak buram, tidak berwarna atau putih, tidak berbau, tidak berasa, agak berminyak. Kelarutan : tidak larut dalam air dan dalam etanol, mudah larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak menguap, dalam hampir semua jenis minyak lemak hangat, sukar larut dalam etanol mutlak.
4.      Salep Kuning
Tiap 1000 g mengandung 50 g lilin dan 950 g vaselin kuning. Lilin kuning adalah lilin yang dimurnikan yang dihasilkan dari sarang tawon (Apis mellifera). Lelehkan lilin kuning dalam steam bath, tambahkan vaselin kuning, hangatkan hingga menjadi cair. Hentikan pemanasan dan aduk campuran sampai mengental.
5.      Salep putih
Tiap 1000 g mengandung 50 g lilin putih dan 950 g vaselin putih. Lilin putih adalah lilin lebah murni yang diputihkan. Lelehkan lilin putih dalam steam bath, tambahkan vaselin putih, hangatkan hingga menjadi cair. Hentikan pemanasan dan aduk campuran sampai mengental.
6.      Minyak mineral
Minyak mineral adalah campuran hidrokarbon cair yang diperoleh dari minyak tanah. Berguna untuk menggerus bahan yang tidak larut pada preparat salep dengan dasar berlemak. Dapat mengandung bahan penstabil yang sesuai.

D.    Metode pembuatan salep
Menurut Ansel (1989), salep dibuat dengan dua metode umum, yaitu: metode pencampuran  dan  metode  peleburan.  Metode  untuk  pembuatan  tertentu  terutama tergantung pada sifat-sifat bahannya.
1.      Pencampuran
Dalam metode pencampuran, komponen dari salep dicampur dengan segala cara sampai sediaan yang rata tercapai.
2.       Peleburan
Pada  metode  peleburan,  semua  atau  beberapa  komponen  dari  salep dicampurkan dengan melebur bersama-sama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen-komponen  yang  tidak  dicairkan  biasanya  ditambahkan  pada cairan yang sedang mengental setelah didinginkan.
Bahan  yang  mudah  menguap  ditambahkan  terakhir  bila  temperatur  dari campuran telah cukup rendah tidak menyebabkan penguraian atau penguapan dari komponen.

E.     Pengujian salep
Meliputi uji sifat fisik dan kecepatan pelepasan obat dari salep.
1.      Uji sifat fisik salep terdiri dari:
a.       Viskositas
Viskositas menyatakan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi akan semakin besar tegangan. (Martin dkk, 1993).
b.       Daya melekat
Untuk mengetahui lamanya salep melekat pada kulit.
c.        Daya menyebar
Untuk mengetahui kelunakan massa salep pada waktu dioleskan pada kulit yang diobati.
d.       Daya proteksi
Untuk mengetahui kekuatan salep melindungi kulit dari pengaruh luar pada waktu pengobatan.
2.      Kecepatan pelepasan obat
Untuk mengetahui pelepasan obat pada kulit dengan membran selofan (Voigt, 1984).

Metode pelepasan obat dari basis dapat dilakukan dengan
1.      Metode in-vitro
Metode in-vitro terdiri dari:
a.       Metode pelepasan tanpa batas membran
b.      Metode difusi dengan kontrol membran, yang terdiri dari:
1)      Membran kulit tiruan
2)      Membran kulit alami
3)      Sel difusi
4)      Kondisi sel difusi tiruan secara in-vitro (Barry, 1983)

Uji pelarutan in-vitro mengukur laju dan jumlah pelarutan obat dalam suatu media dengan adanya satu atau lebih bahan tambahan yang terkandung dalam produk obat. Sifat medium pelarutan juga akan mempengaruhi uji pelarutan. Kelarutan maupun jumlah obat dalam bentuk sediaan harus dipertimbangkan. Dalam melakukan uji in-vitro ini perlu diperhatikan beberapa faktor, yaitu
a.       Ukuran dan bentuk wadah yang mempengaruhi laju dan tingkat pelarutan.
b.      Jumlah pengadukan dan sifat pengadukan. Kenaikan pengadukan dari media pelarut akan menurunkan tebal stagnant layer mengakibatkan kelarutan obat lebih cepat (Shargel dan Yu, 2005). Pengadukan terlalu lemah ada resiko cuplikan dalam medium tidak homogen dan pengadukan terlalu kuat menyebabkan turbulensi (Aiache,1982).
c.       Suhu.
Dalam medium percobaan suhu harus dikendalikan pada keadaan yang konstan yaitu dilakukan pada suhu 37 oC sesuai dengan suhu tubuh manusia. Adanya kenaikan suhu selain dapat meningkatkan gradien konsentrasi juga akan meningkatkan energi kinetik molekul dan meningkatkan tetapan difusi sehingga akan menaikkan kecepatan disolusi (Shargel dan Yu, 2005).
d.      Medium pelarutan
Sifat medium pelarutan akan mempengaruhi uji pelarutan obat. Medium disolusi hendaknya tidak jenuh dengan obat. Medium yang baik merupakan persoalan tersendiri dalam penelitian. Dalam uji, biasanya digunakan suatu media yang lebih besar daripada jumlah pelarut yang diperlukan untuk melarutkan obat secara sempurna (Shargel dan Yu, 2005).

2.      Metode in-vivo
a.       Penelitian respon fisiologis dan farmakologi pada hewan uji.
b.      Sifat fisika kulit
c.       Metode histologi
d.      Analisis pada cairan badan atau jaringan
e.       Kehilangan permukaan (Barry, 1983).

BAB II
METODE KERJA

A.    Formula
1.      Hydrocortisone Acetat 0,1% 5mg
2.      Cera Alba 10% 500mg
3.      Butylhydroxyanisole 0,005% 0,25 mg
4.      Vaselin album ad 5 g
B.     Prosedur pembuatan
1.      Timbang Hydrocortison acetate 27,5 mg
2.      Timbang cera alba 3,022 gram
3.      Timbang Buthyl hydroxyanisol 1,375 mg
4.      Timbang vaselin album 27,196 gram
5.      Cera album dilebur dI atas waterbath ad meleleh
6.      Vaselin album dilebur di atas waterbath ad meleleh
7.      Buat mortar hangat dengan air panas atau di bakar
8.      5+6 dimasukkan ke dalam mortir panas aduk ad homogeny
9.      Tambahkan 1+4 dalam mortar panas, aduk ad homogen dan dingin serta terbentuk massa salep
10.  Salep dibagi menjadi 5 bagian di atas kertas perkamen
11.  Dimasukkan ke dalam tube
12.  Tube diketok-ketok agar salep turun ke bawah
13.  Tube ditutup dengan cara melipat bagian bawah.
BAB III
PEMBAHASAN
Hasil formulasi salep ini telah dievaluasi organoleptik, homogenitas , serta uji isi minimum. Salep yang memenuhi persyaratan masing-masing evaluasi, dianggap sebagai formulasi yang baik. Berikut analisis hasil evaluasi salep :
A.    Organoleptik;
Pada saat hari pembuatan, warna kuning pucat. Hal ini disebabkan karena salep ini mengandung cera alba yang berwarna kuning pucat. Rasa pada jari halus yang artinya semua bahan sudah homogeny. Uji organoleptic yang kedua yaitu uji ketengikan. Setelah mengalami penyimpanan selama 1 minggu, formula salep ini ternyata menghasilkan bau yang tengik. Kemungkinan hal ini disebabkan karena adanya zat pengotor dri basis salep yang tidak seluruhnya tersaring di atas kain kassa, sehingga formula salep menjadi tengik selama penyimpanan.
B.     Uji homogenitas;
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui distribusi partikel atau granul dari suatu pasta dan hasil dari uji salep yang dilakukan hasilnya homogen. Hal ini mengartikan bahwa partikel dari salep tersebut telah terdistribusi dengan baik atau merata. Dapat dilihat saat sampel salep di oleskan secara merata pada obyek glass, persebaran butiran-butiran merata.






BAB IV
KESIMPULAN

A.    KESIMPULAN
Dari formulasi dalam pembuatan salep hydrocortisone asetat ini diperoleh hasil organoleptic meliputi warna, rasa dengan jari dan bau. Warna dari formula salep ini kuning pucat dan warna ini tidak berubah dalam penyimpanan. Untuk rasa dengan jari yaitu halus sehingga formula salep ini homogeny dalam pembuatan dan pencampurannya. Sedangkan uji organoleptic yang kedua yaitu bau. Formula salep yang diuji ini menghasilkan bau yang tengik yang artinya di dalam formula ini terjadi reaksi yang tidak sesuai dengan hasil pada teori yang seharusnya tidak berbau tengik.
Untuk uji homogenitas dan uji isi minimum, formula salep ini hasilnya homogeny yang ditunjukkan dengan sampel salep yang dioleskan pada objek glass terlihat persebaran yang merata. Sedangkan uji isi minimum salep ini telah lolos uji karena rata-ratanya 5 g dan tidaksatupun dari volume yang di uji kurang dari 95% (4.75 g).



DAFTAR PUSTAKA
British Pharmacopoeia 2009
Farmakope Indonesia IV
Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed

0 comments:

Post a Comment

Mari Berkomentar, Bebas Tapi Sopan !! :-D

 
Copyright © . RADEN MAS EKO - Posts · Comments
Didukung Oleh : Eko Putera Sampoerna · Powered by Blogger